28 C
Mataram
Tuesday, April 14, 2026

Minim Dokter dan Fasilitas Internasional, Layanan Kesehatan Gili Trawangan Disorot

Must read

Lombok Utara, NTB — Minimnya jumlah dokter spesialis, belum optimalnya layanan donor darah, hingga ketiadaan fasilitas kesehatan berstandar internasional di kawasan wisata Gili Trawangan menjadi sorotan serius Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta.

Dalam kegiatan Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang digelar Komisi IX DPR RI Fraksi PAN bersama Kementerian Kesehatan di Aula UPTD BUD RSUD Lombok Utara, Minggu (3/8), Ny. Heny menyampaikan sejumlah catatan kritis soal layanan kesehatan di wilayah ujung utara Pulau Lombok.

“Ketersediaan dokter spesialis masih sangat minim. Ini pekerjaan rumah besar bagi kita semua,” tegas Ny. Heny.

Berdasarkan data yang ia paparkan, RSUD Lombok Utara hanya memiliki masing-masing satu hingga dua dokter spesialis di setiap bidang. Di antaranya, Spesialis Dalam (2), Anak (2), Bedah (1), Kandungan (1), Anestesi (2), dan masing-masing satu dokter untuk spesialisasi lainnya seperti Radiologi, Paru, Jiwa, hingga Ortodontis.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk tidak sekadar mengandalkan insentif, tapi juga jemput bola ke kampus-kampus guna menjaring putra-putri daerah dengan beasiswa ikatan dinas pola N2+1. “Pola ini sudah terbukti berhasil dan harus digalakkan kembali untuk membangun kemandirian tenaga medis daerah,” ujarnya.

Selain soal tenaga medis, Ny. Heny juga menyoroti pentingnya optimalisasi kegiatan donor darah, yang menurutnya harus lebih dari sekadar seremoni. “Setiap tetes darah yang disumbangkan adalah bentuk pengamalan nilai kemanusiaan dalam Pancasila,” ungkapnya.

Tak hanya itu, ia menekankan perlunya fasilitas kesehatan bertaraf internasional di kawasan wisata Gili Trawangan, Meno, dan Air. Saat ini, layanan kesehatan di kawasan tersebut lebih banyak ditangani pihak swasta, dengan standar layanan yang belum memadai.

“Pariwisata dan kesehatan harus berjalan seiring. NTB bisa belajar dari Penang, Malaysia, yang sukses menjadikan wisata kesehatan sebagai daya tarik,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bhayangkari juga menyoroti kasus bayi Alia, yang menderita kelainan genetik akibat pernikahan sedarah dan akhirnya meninggal dunia karena keterbatasan layanan medis. Kasus ini, kata Ny. Heny, harus menjadi peringatan penting bagi semua pihak.

“Ini bukan sekadar tragedi medis, tapi alarm agar edukasi tentang bahaya pernikahan sedarah diperkuat. Bhayangkari siap turun langsung ke pelosok untuk menyuarakan ini,” tegasnya.

Ny. Heny juga menyoroti semangat warga di desa-desa yang antusias menerima Bhayangkari, lengkap dengan suguhan lokal seperti jagung ketan, ubi, hingga petai segar. “Kami datang bukan hanya mendengar, tapi juga memeluk dan menemani masyarakat menuju perubahan,” katanya.

Sebagai mitra strategis pemerintah di akar rumput, Bhayangkari mendorong penambahan rumah sakit di Kecamatan Bayan serta peningkatan kesadaran hidup sehat melalui program-program seperti donor darah dan Car Free Day di KLU.

“Target kami, lima tahun ke depan, angka rujukan keluar daerah bisa ditekan. Budaya hidup sehat harus menjadi kebiasaan, bukan hanya kampanye sesaat,” tutup Ny. Heny.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Kesehatan Lombok Utara belum memberikan keterangan resmi meski telah dihubungi.

Kerja sama lintas sektor, sambutan hangat warga, serta kekompakan Forkopimda disebut Ny. Heny sebagai modal penting menuju Lombok Utara yang bebas dari label 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

“Setiap langkah kecil menuju masyarakat sehat adalah langkah besar menuju Lombok Utara yang maju,” pungkasnya.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article