
Lombok Utara, NTB – Transformasi hilirisasi komoditas kakao di Kampung Coklat Senara, Desa Genggelang, Lombok Utara, mendapat dorongan kuat dari Bhayangkari Cabang Lombok Utara. Hal ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) “Penguatan Literasi Inklusif dan Rantai Pasok Komoditas Kakao” yang digelar pada Senin (2/6).
Ketua Bhayangkari Lombok Utara, Heny Agus Purwanta, menyampaikan apresiasinya terhadap potensi yang dimiliki para petani di Kampung Senara. Menurutnya, meski sekitar 90 petani telah mengelola lebih dari 100 hektare lahan kakao, sebagian besar produksi masih berupa buah mentah.
“Ini adalah tantangan dan peluang. Hanya 3–4 persen yang diolah menjadi produk siap konsumsi. Padahal dari segi rasa sudah kompetitif. Tantangannya adalah kemasan dan legalitas, termasuk sertifikasi BPOM, halal, masa kedaluwarsa, dan SNI,” jelas Heny.
Bhayangkari sendiri berkomitmen menjadi jembatan pemasaran produk lokal. Salah satunya, Heny memastikan produk olahan Kampung Senara akan dibawa ke ajang Bazar Nusantara Bhayangkari se-Indonesia pada 23 Juli mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarsip) Lombok Utara, Mochammad Wahyu Dharmawan, menegaskan bahwa literasi yang dikembangkan pihaknya bersifat implementatif dan berdampak langsung pada ekonomi warga desa.
“Perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi pusat pemberdayaan desa. Di Kampung Senara, literasi menjadi pintu masuk untuk transformasi: dari petani menjadi produsen kreatif,” ujar Wahyu.
Ia menambahkan, transformasi hilirisasi kakao tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, dengan melibatkan Disperindag, Dinas Pertanian, dan Dinas Pariwisata, untuk menciptakan ekosistem usaha petani kakao yang berkelanjutan.
Dengan kolaborasi ini, Kampung Coklat Senara diharapkan menjadi percontohan transformasi ekonomi desa, sekaligus menembus pasar nasional dengan produk kakao berkualitas.



