Sebagai bentuk tindak lanjut atas perjanjian damai yang telah disepakati warga Lingkungan Asak dan Peresak pada bulan Juli lalu, pagi tadi perwakilan warga dari kedua belah pihak telah menandatangani kesepakatan damai sebagai bentuk komitmen dalam menjaga perdamaian dan kerukunan.

 

Sebagai bentuk tindak lanjut atas perjanjian damai yang telah disepakati warga Lingkungan Asak dan Peresak pada bulan Juli lalu, pagi tadi perwakilan warga dari kedua belah pihak telah menandatangani kesepakatan damai sebagai bentuk komitmen dalam menjaga perdamaian dan kerukunan di wilayah Pagutan.

Seperti diketahui pada bulan Juli lalu, sempat terjadi perselisihan antara kedua lingkungan karena dipicu oleh bunyi-bunyian gamelan iringan penjemputan mempelai perempuan yang melewati jalan bandarsraya, yang saat melintasi Masjid Pusaka Al-Hamidy Lingkungan Presak Timur, iring-iringan ditegur oleh seorang warga setempat, agar tak menabuh bunyi-bunyian, namun terguran tersebut tidak diterima oleh sejumlah peserta iring-iringan, dan berujung pertikaian panjang.

Untuk itu dalam perjanjian damai tersebut telah disepakati sejumlah ketentuan seperti untuk menghentikan segala jenis bunyia-bunyian dan kegaduhan dalam batas 59 meter baik dari sebelah sebelah timur maupun sebelah barat Masjid Pusaka Al-Hamidy. Termasuk sanksi bagi warga yang melanggar berupa kewajiban membersihkan rumah ibadah selam 40 hari atau denda senilai lima juta rupiah.

Sementara itu  Wakil Walikota Mataram berharap  kesepakatan tersebut dapat benar-benar dipatuhi secara bersama mengingat keinginan dari kedua belah pihak telah diakomodir dalam kesepakatan tersebut guna mengembalikan suasana yang kondusif di masyarakat.

“Kami berharap tentu semuanya dapat damai kembali, masyarakat juga dapat beraktifitas dengan baik, tidak ada yang merasa terancam atau terintimidasi, dan tidak ada lagi aksi-aksi provokasi yang dapat memicu terjadinya persoalan serupa lagi.”(el)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here