Kota Mataram menduduki posisi pertama sebagai kota dengan  kasus HIV AIDS tertinggi dari seluruh kabupaten/kota di NTB, dengan jumlah 217 kasus di tahun 2017, untuk itu pemerintah kota mataram berkomitmen untuk melakukan penguatan dalam upaya pengendalian HIV/aids.

 

Peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2017 menjadi momentum Pemerintah Kota Mataram untuk menyatakan penguatan komitmen dalam upaya pengendalian HIV AIDS di Kota Mataram. Komitmen tersebut disampaikan oleh Wakil Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana saat menggelar Konferensi Pers bersama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Mataram.

 

Mohan Roliskana mengatakan bahwa momentum Peringatan Hari AIDS Sedunai Tahun 2017 menjadi momentum yang sangat strategis dengan telah ditemukannya obat pengendali virus HIV AIDS yang disebut dengan obat ARV atau Anti Retro Viral, yang memungkinkan penderita penyakit yang sebelumnya selalu disebut sebagai penyakit mematikan, kini memiliki harapan untuk dapat sembuh melalui pengobatan yang tepat secara rutin dan terus-menerus. Komitmen Pemerintah Kota Mataram dalam rangka pengendalian HIV AIDS di Kota Mataram juga dilakukan di semua sektor yang memberi dukungan secara masif dan signifikan. Diantaranya dengan mengalokasikan anggaran secara konsisten sejak tahun 2006, serta meningkatkan fasilitas penanganan HIV AIDS di 11 puskesmas yang ada di enam kecamatan se-Kota Mataram dan di RSUD Kota Mataram.

 

“Ini menjadi isu yang sangat penting. Di tahun 2030 nanti kita harapkan Kota Mataram dapat mencapai target 3 Zero. Zero infeksi baru, Zero kematian akibat HIV AIDS, dan Zero stigma dan diskriminasi”,

 

Sementara itu , Ketua KPA Kota Mataram dr. Margaretha Chepas menjelaskan jika Kota Mataram sebagai ibukota Provinsi NTB memiliki kasus HIV AIDS tertinggi dari seluruh kabupaten/kota di NTB. Di tahun 2017 ini saja sampai dengan bulan Oktober 2017, telah ditemukan 217 kasus HIV, 207 orang penderita AIDS dan 117 orang penderita meninggal dunia. Penderita juga tidak lagi sebatas pada kelompok masyarakat yang memiliki gaya hidup menyimpang. Namun sudah terjadi di lintas usia, lintas profesi, bahkan diantaranya adalah ibu rumah tangga dan anak-anak. Meski demikian tingginya kasus HIV AIDS yang ditemukan di Kota Mataram justru menjadi pertanda baik,dimana kasus yang terungkap memang sudah seharusnya lebih tinggi.

 

“Berarti lebih banyak penderita memiliki akses layanan, sehingga kedepan di tahun 2030 kasus turun dan fenomena gunung es yang terjadi selama ini bisa mencair”, terangnya.(el)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here