Ketua generasi sehat dan cerdas (GSC) kabupaten Lombok barat mengkritik data yang dikeluarkan oleh badan pusat statistik, pasalanya seringkali data dari bps tidak sesuai dengan fakta di tengah masyarakat, karena bps tidak melakukan survey dengan menggunakan metode kearifan lokal.

 

Tumpang tindih data yang dikeluarkan oleh bps dengan fakta real ditengah masyarakat kerap kali menjadi polemik di tengah masyarakat, pasalnya data yang dikeluarkan secara resmi oleh bps terkadang  tidak sesuai dengan kearifan lokal di suatu daerah.

Hal tersebut menjadi sorotan salah satu ngo generasi sehat cerdas Lombok barat isdiana putri, menurutnya bps harus memperhatikan kearifan lokal dalam melakukan sensus dalam mengeluarkan data, seperti halnya data tentang kemiskinan, ukukan normative dari bps yang bersangkutan termasuk miskin, karena memiliki rumah yang masih menggunakan ilalang, dinding masih menggunakan bambu dan lantai masih dengan tanah, namun disisi lain yang bersangkutan memiliki puluhan hewan ternak  selain itu juga yang bersangkutan memiliki tanah sawah berhektar hektar.

Meski demikian Diana tidak hanya mengkritik bps, namun ia juga menyoroti soal karakter masyarakat di Lombok barat yang terkadang sering tidak jujur dalam memberikan informasi saat di lakukan pendataan oleh petugas, hal tersebut disebabkan karena masyarakat takut tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah jika memberikan informasi yang sebenarnya
Lebih lanjut Diana menyatakan , kedepan bps ataupun instansi terkait harus melibatkan unsur pemerintah desa dalam melakukan pendataan, karena pemerintah desa lah yang paling mengetahui daerahnya sendiri.(af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here